Di dalam ruangan labirin yang gelap dan lembap, tiga sosok berpakaian hitam terlihat kebingungan, langkah mereka terburu-buru sambil memeriksa setiap sudut. Dinding-dinding batu yang dingin dan gelap seolah mengepung mereka, menambah suasana mencekam. Mereka terjebak. Informasi sebelumnya yang mereka dapatkan ternyata adalah jebakan, dan kini mereka menyadari betapa bodohnya mereka telah terjebak dalam permainan musuh.

Beberapa waktu sebelumnya, setelah Kael berhasil mendapatkan peti kecil yang diperkirakan berisi kunci menuju ruang rahasia, Dia bersama Arkha dan ketiga rekannya yang lain akan keluar dari tempat rahasia melalui lorong kecil tempat mereka masuk sebelumnya, tetapi tiba-tiba, Karim yang mendapat tugas untuk memantau keadaan sebuah keluarga rahasia mendadak muncul dengan napas terengah-engah.

"Karim, kenapa kamu kemari?" tanya Arkha dengan nada heran. Saat mereka menjalankan misi bersama, setelah mendapatkan informasi mengenai lokasi kunci yang dapat membuka ruang rahasia tempat fragmen senjata iblis disembunyikan, mereka segera membagi tugas. Karim sengaja ditinggalkan untuk melanjutkan misi mereka memantau para keluarga rahasia yang sedang mengincar benda yang sama, sedangkan Arkha dan Kael bersama rekan mereka yang lainnya akan mengambil kunci tersebut.  Namun kini Karim datang dengan terlihat tegang dan panik.

Karim dengan wajahnya yang pucat, matanya terlihat penuh kegelisahan. "Kael, ini jebakan! Aku segera menyusul kalian untuk memperingatkan, tetapi terlambat, aku menemukan jejak kalian sudah memasuki tempat ini sehingga aku terpaksa menyusul turun kemari." katanya sambil mengulurkan selembar surat. "Lihat ini. Bukan hanya kita yang tahu tentang keberadaan  kunci itu ditempat ini. Ada yang sengaja membocorkan lokasi rahasia ini agar banyak pihak yang menuju tempat  ini!"

Kael segera meraih surat itu, matanya menyapu setiap kata dengan cepat. Alisnya berkerut, bibirnya mengeras. Surat tersebut adalah surat peringatan yang diberikan oleh mata-mata mereka. "Seseorang di dalam sekte Api Langit sengaja membocorkan lokasi kunci untuk mengalihkan perhatian musuh," gumamnya pelan, suaranya penuh kegeraman. "Ini ternyata hanyalah perangkap. Kita dijebak masuk kedalam rencana mereka."

Sebelum sempat merespons lebih lanjut, tiba-tiba salah seorang dari mereka, yang selama ini diam, bergerak seperti kilat. Pisau kecil berkilat di tangannya, dan dalam sekejap, rekan mereka yang lain terjatuh, darah mengalir dari lehernya. Tanpa ampun, pria itu kini menodongkan pisaunya ke leher Karim, matanya dingin dan penuh perhitungan. Pria tersebut mengetahui kemampuan Karim yang hanya forging Qi tingkat dua, dan kedekatan Karim dengan Kael dan Arkha sehingga segera bergerak saat melihat adanya kesempatan.

"Jangan bergerak!" hardiknya, suaranya seperti desisan ular. "Serahkan peti itu, atau Karim akan mati di tempat ini!"

Karim, yang terkejut, mencoba menahan emosinya. "Arkha, jangan dengarkan dia!" serunya, meski suaranya gemetar.

Pria itu menekan pisau lebih dalam, membuat setetes darah mengalir di leher Karim. "Diam! Atau kau akan merasakan pisau ini lebih dalam!" ancamnya, matanya melirik ke arah Kael dan Arkha. "Cepat, serahkan peti itu!"

Kael menatap pria itu dengan tatapan tajam, seperti elang yang mengincar mangsanya. Suaranya tenang, tapi berisi ancaman. "Siapa yang membayarmu? Kita sudah bertahun-tahun bersama. Apa yang membuatmu tega mengkhianati kita?"

Pria itu tertawa pendek, suaranya penuh kepahitan. "Membayarku? Dunia ini kejam, Kael. Jika aku tidak mengambil kesempatan ini, aku akan selamanya jadi budak kalian. Kunci itu adalah tiket kebebasanku. Aku akan menjualnya kepada penawar tertinggi, dan hidup mewah jauh dari semua ini."

Kael menghela napas, matanya berpindah ke Karim yang terlihat semakin pucat. Karim telah mengerahkan banyak kekuatannya untuk bisa segera ketempat ini, namun dia tidak menduga jika salah seorang dari mereka ternyata Pengkhianat.

Kael tahu tidak ada waktu untuk berdebat. Dengan gerakan lambat, dia mengeluarkan peti kecil dari sakunya. "Baik, ambil peti ini. Tapi lepaskan Karim."

"Jangan main-main, Kael!" bentak pria itu, matanya menyala. "Lemparkan peti itu ke sini, sekarang juga!"

Kael mengangguk pelan, matanya memberi isyarat kepada Karim untuk bersiap. Dengan gerakan hati-hati, dia melemparkan peti ke arah pria itu. Namun, sebelum peti itu sampai, tiba-tiba rekan mereka yang lain, yang selama ini diam, melesat maju. Tangannya mengeluarkan energi Qi, siap menyerang.

"Jangan!" teriak Kael, tapi sudah terlambat.

Serangan itu memicu jebakan tersembunyi di dalam ruangan. Getaran keras mengguncang dinding, dan batu-batu besar mulai runtuh dari atas. Pria pengkhianat itu dengan cepat mendorong Karim ke arah rekan mereka, sambil melemparkan pisaunya tepat ke arah dahi pria yang menyerang. "Bodoh!" teriaknya, sebelum mengambil peti dan melesat ke lorong masuk.

Kael, Karim, dan Arkha terpaksa mundur, menghindari reruntuhan batu yang berjatuhan. "Ke sini!" teriak Kael. Sebelumnya saat berusaha mengambil peti, matanya menangkap celah kecil di dinding. Tanpa pikir panjang, mereka bertiga berlari menuju celah itu, memasuki ruangan baru yang ternyata adalah labirin yang lebih rumit.

***

Di Sekte Api Langit, getaran dahsyat tiba-tiba mengguncang tanah. Para murid dan guru yang sedang berlatih atau bermeditasi terhenti, wajah mereka dipenuhi kebingungan. Getaran itu begitu kuat, bahkan sampai menggetarkan dinding-dinding bangunan sekte.

"Ada apa ini? Gempa?" tanya seorang murid muda, matanya melirik ke sekeliling dengan cemas.

"Tidak mungkin. Ini sepertinya bukan gempa biasa bisa jadi ada pertarungan dahsyat," jawab seorang murid senior, tangannya merasakan getaran di tanah. "Tapi aneh, tidak ada energi Qi yang terasa. Biasanya jika ada pertarungan besar, aura pertarungan itu akan terasa jelas."

Di ruangan tempat para tetua berkumpul, getaran itu juga dirasakan. Tetua Xie Lian mengerutkan kening, matanya waspada. "Apa yang terjadi? Aku yakin Ini bukan pertarungan. Tidak ada energi Qi yang terdeteksi."

Tetua Huang, yang menjadi penyebab banyak pihak mengetahui keberadaan gua tersebut, tiba-tiba tersenyum lebar. Matanya berbinar dengan kepuasan. "Kalian tahu getaran apa ini?" tanyanya, suaranya penuh keyakinan. "Itu adalah getaran seseorang memasuki gua lama tempat latihan ketua sekte sebelumnya. Aku sengaja memancing mereka ke tempat itu untuk mengalihkan perhatian orang-orang yang mengincar kunci tersebut."

Para tetua lain menatapnya dengan bingung dan marah. "Apa maksudmu, Huang Jian?" tanya Tetua Xie Lian, suaranya keras dan penuh kecurigaan. "Apa maksudmu dengan sengaja membocorkan lokasi gua itu?"

Tetua Huang hanya tersenyum sinis. "Tentu saja aku harus memancing dan menemukan siapa saja orang yang tertarik untuk mendapatkan kunci ini. Dengan memancing mereka ke gua itu, kami bisa mendapatkan kesempatan untuk mengamankan kunci yang sebenarnya."

Tanpa menjelaskan lebih lanjut, Tetua Huang berbalik dan berjalan keluar dari ruangan, meninggalkan para tetua lainnya yang masih bingung dan marah. "Dia gila!" geram salah satu tetua. "Apa yang sebenarnya terjadi?"

Tetua Xie Lian menghela napas, matanya kembali tertuju pada Ling Mei yang masih terbaring lemah. "Apa pun yang terjadi, kita harus fokus menyelamatkan Ling Mei. Racun ini tidak bisa dibiarkan lebih lama. Nyawanya berada dalam bahaya."

Para tetua lainnya mengangguk, meski masih terlihat gelisah. Mereka kembali berkumpul di sekitar Ling Mei, mencoba mencari cara untuk mengobati racun yang menggerogoti tubuhnya. Namun, di balik ketenangan mereka, pertanyaan tentang apa yang sebenarnya terjadi dan apa rencana Tetua Huang terus mengganggu pikiran mereka.

Di sebuah tempat yang tenang, jauh dari keramaian Sekte Api Langit, Xiao Ling duduk bersila di atas batu besar. Matanya tertutup, napasnya teratur, sambil memikirkan rencana selanjutnya. Meskipun pertemuannya dengan Guru Yuan sebelumnya terasa tidak menyenangkan, dia yakin Ling Mei baik-baik saja. "Dia bersama orang-orang sektenya sendiri. Pasti tidak ada yang terjadi," gumamnya dalam hati, mencoba menenangkan dirinya.

Namun, tiba-tiba, getaran dahsyat mengguncang tanah di sekitarnya. Xiao Ling membuka matanya dengan cepat, tatapannya tajam dan waspada. "Getaran ini... Apa yang terjadi? Aku yakin ini bukan gempa biasa," bisiknya, merasakan sesuatu yang tidak beres.

Dia segera mengeluarkan kekuatannya, merasakan asal getaran tersebut. Energi supernya-nya menyebar seperti gelombang, mencoba mendeteksi sumbernya. Dalam sekejap, dia mengetahui bahwa getaran itu berasal dari arah jurang yang terletak beberapa kilometer dari tempatnya berdiri.

